Press Release
From Different Perspectives
MODENA Masterpiece Retrofridge
02 Agustus 2018

MODENA kembali mempersembahkan "Masterpiece Retrofridge" – koleksi karya seni terbatas dari lemari pendingin seri Retro yang menjadi medium ekspresi seniman Indonesia. Setelah tahun lalu menggandeng Kemal Ezedine, Radi Arwinda, dan Hendra "Hehe" Harsono, tahun ini MODENA berkolaborai dengan Darbotz, Indra Dodi, dan Naufal Abshar. Ketiga pelukis menggoreskan passion, imajinasi, dan pengalamannya ke tingkatan di mana proses kreativitas menyatu dalam kanvas yang sama dengan kekuatan desain.

“MODENA menghadirkan kembali Masterpiece Retrofridge dengan pesan bahwa karya seni tidak hanya bisa dinikmati terbatas pada kolektor, kurator, atau seniman, namun juga dapat dinikmati secara inklusif oleh masyarakat luas”, papar Robert Widjaja, Direktur MODENA Indonesia.

Masterpiece Retrofridge terdiri atas tiga buah mahakarya yang dihasilkan melalui tiga proses kreatif berbeda.

“SUBCONSCIOUS” dari Darbotz terilhami bagian dari pikiran yang tidak sepenuhnya sadar, namun mempengaruhi tindakan dan perasaan seseorang. Ketika Darbotz pergi keluar melukis, tanpa sadar ia memilih tempat, menentukan warna, dan melakukan apapun yang ia inginkan. “Perumpamaan sederhana yang sama ketika Anda lapar di malam hari dan membuka kulkas, makan apa pun yang tersisa di dalamnya,” jelasnya.

Indra Dodi merefleksikan pengalaman hidupnya melalui figur imajiner serta aksentuasi kata dan warna dalam “The Big Man Story”, sebuah sosok superhero yang memiliki pengaruh besar kepada orang lain. Wajah-wajah pada lukisan Indra Dodi memvisualisasikan ceritanya sendiri. Penampilan fisik adalah metafora dari suasana kejiwaan yang menjabarkan karakter spesifik dan attitude seseorang. “Manusia boleh tinggi atau pendek, gemuk atau kurus,” ungkap Indra Dodi, “yang membuat perbedaan adalah ekspresi.”

Naufal Abshar membuat ilustrasi yang diberi judul : “Timeless Robot”, nostalgia masa kecil tentang robot yang senantiasa tersimpan dalam memori. Karya ini menunjukkan pergeseran waktu bagaimana kemanusiaan berkembang. Kotak mainan adalah saksi kemajuan teknologi. Bukan hanya sebatas mainan, ia mewakili imajinasi, ekspresi, dan identitas. “Kami menyebutnya mainan Retro,” ujar Naufal.

Masyarakat dapat melihat langsung jajaran produk Masterpiece Retrofridge di gelaran Art Jakarta tanggal 02-05 Agustus 2018 di The Ritz Calton, Jakarta Pacific Place. Pada hari terakhir tanggal 05 Agustus di main stage akan diadakan Art Charity Auction, yang hasilnya akan didonasikan kepada Yayasan Doctor Share untuk Floating Hospital.

Darbotz

Darbotz sangat mencintai Jakarta. Kemacetan, kesemrawutan, dan hiruk-pikuk yang dihadapi sehari-hari membangkitkan visualisasi unik dalam karyanya : cumi-cumi.

Jejak awal Darbotz di jalanan ibukota adalah nama geng sekolahnya era kenakalan remaja tahun 1997. Setelah lebih memahami prinsip visual secara komprehensif selama 4 tahun kuliah, Darbotz berupaya menciptakan karakteristik visual sebagai identitas khas, tanpa harus mencantumkan nama dalam lukisan, terinspirasi penampilan salah satu grup musik hip-hop Amerika.

Darbotz hanya menggunakan warna hitam - putih dengan sedikit aksentuasi. Gaya visualisasi ini adalah bagian dari strategi yang dia gunakan selama bekerja di jalanan. Penggunaan warna-warna sederhana justru menarik perhatian yang lebih intens. Beberapa perusahaan multinational tertarik berkolaborasi, di antaranya : Nike dan Google Chrome. Pola, teknik, dan energy yang digunakan Darbotz di jalanan tersebut dituangkannya ke atas kanvas. “Bedanya, kanvas merupakan media yang lebih kecil. Sementara di jalanan,” menurut Darbotz,”…tidak ada batas…. kita dapat mencium bau jalanan, polusi, angin, macet, dan bunyi mobil lalu-lalang.”

Darbotz merupakan salah satu pendiri Tembokbomber.com. salah satu komunitas graffiti terbesar Indonesia.

Indra Dodi

Pria kelahiran Padang tahun 1980 ini mulai belajar melukis dari pamannya saat menginjakkan kaki di Yogjakarta tahun 2000. Lima tahun kemudian, ia menempuh pendidikan Seni Rupa di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Indra Dodi mengembangkan bahasa visual tersendiri. Kata-kata atau huruf dalam kanvas, tidak ditujukan untuk dimengerti, lebih merupakan elemen visual. Garis mengalir seperti sungai dan huruf-huruf berwarna bersemi seolah berada di kebun bunga. Lukisan Indra Dodi pada prinsipnya adalah sebuah puisi visual. Ia menuntun kita menutup mata kembali ke alam kanak-kanak. Keceriaan dan kemauan anak-anak berpetualang dalam dunia yang belum dikenal merupakan sumber inspirasi, motivasi, sekaligus kontributor utama dari figur-figur yang muncul di lukisan.

Indra menyukai permainan. Ia berpendapat bahwa manusia harus menyempatkan diri bermain-main, dengan begitu manusia akan menjadi manusia seutuhnya. “Respons dari rangsangan yang menyenangkan dari bermain sama dengan mengikuti kebenaran hati nurani,” katanya, “Seni hanya meng-copynya. Seni yang berangkat dari permainan akan menyebarkan kesenangan buat semua orang.”

Naufal Abshar

Naufal Abshar lahir di Bandung 13 Juli 1993. Mengeyam pendidikan di Lasalle College of the Arts dan Goldsmith University of London di Singapura, Naufal telah berpartisipasi di berbagai pameran di Singapura, Yogyakarta, Venesia, dan Lithuania. Dengan seri “HAHA’-nya, Naufal menjelajahi akar dan batas humor serta tawa. Pada tahun 2013, Naufal berhasil memenangi live painting competition Indonesia Arts Festival.

Sebagai seorang artis, Naufal sedikit banyak terpengaruh Henri Bergson, seniman Perancis yang melakukan riset mendalami humor dan kaitannya dengan aspek sosial.

“Saya mengeksplorasi konsep humor dan tawa, sesuatu yang bersifat universal. ‘HAHA’ mewakili tawa dalam keseharian kita, tertawa karena memenangi sesuatu, ingin menggoda atau menertawakan seseorang, awal kegilaan atau penawar rasa takut. Saya mencoba memasukkan unsur humor dan tawa dalam melakukan kritik sosial. Humor politik dapat ditemukan dalam sebagian besar karya saya. Penggunaan satiric laughter memberikan gambaran bagaimana saya menggunakan tawa sebagai media berekspresi dalam menyampaikan kritik.”